Kita Selalu Punya Rencana… Sampai Hidup Menghentikannya Tiba-Tiba

Hari ke-29 Aṭṭhasīla: Saat Kehidupan Mengingatkan… Tidak Ada yang Kita Miliki Selamanya

Hari ke-29 Aṭṭhasīla berjalan seperti biasanya—Meditasi Ānāpānasati sekitar 60 menit, mengajar murid-murid di sekolah, aktivitas rumah dan anak-anak, menjaga sila, mengatur pola makan dan memasak untuk keluarga, berolahraga di tempat fitness seperti rutinitas biasa, menjalani aktivitas dengan lebih hening, tetap berusaha hadir dari momen ke momen, ditutup dengan membacakan aspirasi dan pelimpahan jasa.

Rutinitas terasa berjalan… seperti biasa.

Namun hari ini, ada satu kabar yang membuat batin terdiam cukup lama.


Kabar yang Datang Tiba-Tiba

Di salah satu grup WhatsApp belajar neuroparenting bersama rekan-rekan psikolog dan lulusan psikologi HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia) Kaltim, muncul kabar duka.

Guru kami, dr. Amir Zuhdi
telah berpulang.

Tidak ada yang menyangka.

Baru beberapa hari lalu, Beliau masih mengajar kami melalui Zoom.

Masih dengan gaya khas Beliau:

  • penuh semangat
  • diselingi humor
  • membuat kelas terasa hidup

Peserta aktif bertanya, berbagi pengalaman, berdiskusi hangat.

Dan sekarang…

beliau sudah tidak ada.


Rasa yang Tertinggal

Ada perasaan yang sulit dijelaskan.

Seperti belum selesai belajar…
seperti masih ingin mendengar lebih banyak…

Namun kehidupan tidak selalu memberi waktu sesuai keinginan kita.

Semoga berbahagia di alam sana ya, Pak Dokter.
Ilmu yang Bapak berikan akan menjadi bekal bagi kami…

Untuk:

  • mendidik anak
  • membimbing murid
  • dan berkontribusi membentuk generasi penerus bangsa yang lebih baik

Kehidupan: Sebuah Misteri

Hari ini kembali diingatkan dengan sangat nyata:

👉 hidup ini tidak pasti
👉 tidak ada yang tahu kapan “kontrak” ini selesai

Kita bisa:

  • merencanakan
  • menjadwalkan
  • bahkan menunda banyak hal

Namun waktu berjalan dengan hukum yang tidak bisa kita kendalikan.


Renungan: Abhinhapaccavekkhana Patha

Dalam ajaran Buddha, terdapat renungan yang sangat penting untuk sering diingat:

👉 Abhinhapaccavekkhana Patha (lima perenungan yang harus sering direnungkan)

Renungan ini bukan untuk menakut-nakuti,
tetapi untuk membangun kebijaksanaan (paññā).

1. Saya pasti akan menua (jarā-dhammo’mhi)

Tidak ada yang bisa menghindari penuaan.

Semua yang kita banggakan:

  • fisik
  • penampilan
  • kekuatan

akan berubah.


2. Saya pasti akan sakit (vyādhi-dhammo’mhi)

Tubuh ini rapuh.

Sehat hari ini,
tidak menjamin besok tetap sama.


3. Saya pasti akan meninggal (maraṇa-dhammo’mhi)

Ini yang paling sering dilupakan.

Padahal ini satu-satunya kepastian.


4. Semua yang saya cintai akan berpisah (piyehi vippayogo)

Tidak ada hubungan yang bisa kita miliki selamanya.

Cepat atau lambat,
perpisahan pasti terjadi.


5. Saya adalah pemilik kamma (kammassakomhi)

Inilah yang benar-benar kita miliki.

Bukan harta.
Bukan jabatan.
Bukan orang lain.

👉 hanya kamma (perbuatan) kita sendiri


Kajian Abhidhamma: Mengapa Kita Sulit Melepas?

Dalam Abhidhamma, reaksi kita terhadap kehilangan sangat berkaitan dengan:

  • lobha (kemelekatan, keserakahan)
  • moha (ketidaktahuan, kebudohan batin)

Kita melekat pada:

  • orang
  • pengalaman
  • perasaan

Sehingga ketika kondisi berubah:

👉 muncullah dukkha (ketidakpuasan, penderitaan)

Padahal secara hakikat:

  • semua citta muncul dan lenyap sangat cepat
  • semua kondisi adalah anicca (tidak kekal)
  • tidak ada yang benar-benar bisa kita “pegang”

Namun karena tidak melihat ini secara langsung:

👉 batin ingin mempertahankan
👉 tidak siap melepaskan


Belajar Menerima… Walau Tidak Mudah

Renungan ini tidak membuat kita langsung “tidak sedih”.

Kesedihan tetap muncul.

Namun perlahan, jika sering direnungkan:

👉 kita mulai lebih memahami
👉 lebih menerima
👉 dan sedikit demi sedikit… bisa melepas

Bukan karena tidak peduli.

Tetapi karena mulai melihat realitas sebagaimana adanya.


Kesempatan yang Sangat Langka

Hari ini juga mengingatkan sesuatu yang sangat penting:

👉 terlahir sebagai manusia itu sangat sulit

Dalam Chiggala Sutta, Buddha memberikan perumpamaan:

Seekor kura-kura buta di lautan luas,
yang muncul ke permukaan hanya sekali dalam 100 tahun,
dan harus memasukkan kepalanya ke dalam lubang kecil dari kayu yang mengapung…

👉 kemungkinan itu masih lebih besar
dibandingkan kita terlahir sebagai manusia.


Lalu, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Jika kesempatan ini begitu langka…

maka hidup ini bukan untuk:

  • disia-siakan
  • dihabiskan tanpa arah

Tetapi untuk:

👉 berbuat kebajikan
👉 mengembangkan batin
👉 mengumpulkan pāramī
👉 dan berjalan menuju pembebasan (Nibbāna)


Penutup: Sebuah Pengingat yang Dalam

Hari ke-29 ini bukan hanya tentang kehilangan.

Tetapi tentang:

👉 diingatkan kembali akan hakikat kehidupan
👉 diingatkan untuk tidak menunda berbuat baik
👉 dan diingatkan untuk terus melatih batin

Semoga:

  • kita lebih menghargai waktu
  • lebih tulus dalam berbuat
  • dan lebih bijaksana dalam menjalani hidup

Walaupun tidak mudah…

namun dengan sering merenung,
perlahan kita belajar:

👉 menerima
👉 memahami
👉 dan melepaskan

Sādhu..Sādhu..Sādhu..🙏🏻

Save post ini… untuk diingat saat kita mulai lupa.

(Jumat, 17 April 2026)

Baca juga: H 26 Atthasīla: Manfaat Meditasi Metta Kendalikan Kemarahan

Mungkin Anda juga menyukai