Melepas Kemelekatan terhadap Make Up: Refleksi Hari ke-70 Aṭṭhasīla
Melepas Kemelekatan terhadap Make Up: Refleksi Hari ke-70 Aṭṭhasīla
Pada Hari ke-70 Aṭṭhasīla, saya merenungkan pengalaman pribadi melepas kemelekatan terhadap make up dan belajar melihat bagaimana batin melekat pada penampilan, citra diri, serta rasa ingin diterima.
Hari ke-70 Aṭṭhasīla membawa saya pada satu perenungan yang sangat personal: melepas kemelekatan terhadap make up.
Saya menulis refleksi ini bukan untuk menilai orang yang memakai make up. Banyak orang memakai make up karena tuntutan profesi, kerapian, seni, budaya, acara, atau kebutuhan tertentu. Dalam konteks seperti itu, make up bisa menjadi bagian dari tanggung jawab sosial maupun profesional.
Refleksi ini hanya tentang latihan pribadi saya: melihat batin yang dulu terlalu melekat pada penampilan.
Dulu saya sangat melekat pada make up. Make up bukan sekadar alat untuk mempercantik diri. Ia seperti menjadi bagian dari rasa percaya diri. Ada dorongan untuk tampil lebih baik, terlihat lebih segar, lebih rapi, dan mungkin juga lebih diterima.
Saat keluar rumah, bertemu orang, menghadiri acara, atau pergi ke tempat yang terasa formal, make up seperti memberi rasa aman. Ada perasaan bahwa wajah perlu “disiapkan” agar layak dilihat. Ada kebiasaan memeriksa tampilan. Ada waktu yang cukup banyak habis hanya untuk memastikan wajah terlihat lebih baik.
Perlahan, saya mulai menyadari bahwa di balik kebiasaan itu ada bentuk halus dari kemelekatan.
Bukan make up-nya yang menjadi masalah utama. Yang menjadi bahan latihan adalah batin saya sendiri.
Batin yang merasa belum cukup tanpa dihias.
Batin yang takut terlihat biasa.
Batin yang ingin mempertahankan citra.
Batin yang khawatir dinilai orang.
Batin yang terlalu bergantung pada tampilan luar untuk merasa percaya diri.
Dalam bahasa Dhamma, saya mulai melihat adanya kemelekatan (lobha) yang halus: kemelekatan pada bentuk, penampilan, citra diri, dan rasa diterima.
Aṭṭhasīla dan Latihan Tidak Berhias
Dalam Aṭṭhasīla, terdapat latihan untuk tidak mencari hiburan, tidak memakai wewangian, tidak berhias, dan tidak mempercantik tubuh secara berlebihan. Bagi saya, sila ini bukan sekadar aturan luar. Ia menjadi cermin yang sangat jelas.
Saat tidak memakai make up, batin mulai tampak.
Ada rasa kurang nyaman.
Ada dorongan ingin mengambil bedak atau lipstik.
Ada pikiran, “Nanti terlihat pucat.”
Ada kekhawatiran, “Bagaimana kalau bertemu orang?”
Ada perasaan bahwa tampil polos terasa belum aman.
Justru di situlah latihan dimulai.
Saya belajar melihat keinginan tanpa langsung mengikutinya. Saya belajar melihat rasa tidak nyaman tanpa langsung menutupinya. Saya belajar bertemu orang dengan wajah apa adanya, sambil mengamati batin yang masih ingin dihias.
Aṭṭhasīla membantu saya berhenti sebentar dari kebiasaan yang dulu berjalan otomatis.
Wajah Tanpa Make Up pun Tidak Masalah
Seiring waktu, saya mulai mengalami sendiri bahwa wajah tanpa make up pun tidak masalah.
Saya tetap bisa menjalani hari.
Saya tetap bisa bertemu orang.
Saya tetap bisa mengajar.
Saya tetap bisa datang ke acara.
Saya tetap bisa berbicara dengan orang lain.
Saya tetap bernilai tanpa harus selalu dihias.
Bahkan selama menjalani Aṭṭhasīla, saya mulai terbiasa tampil polos tanpa make up sama sekali ke berbagai acara: kondangan pengantin, acara bank, perpisahan kelas anak, kegiatan sekolah, maupun kegiatan vihara.
Awalnya terasa tidak biasa. Namun lama-lama justru terasa lebih simpel.
Tidak perlu banyak waktu bersiap.
Tidak perlu terlalu banyak memikirkan wajah.
Tidak perlu membawa banyak perlengkapan.
Tidak perlu gelisah apakah make up masih rapi.
Tidak perlu merasa penampilan luar harus selalu dikendalikan.
Ada rasa ringan yang muncul.
Bukan karena saya sudah bebas sepenuhnya dari kemelekatan. Bukan karena saya lebih baik daripada orang lain. Tetapi karena ada satu kebiasaan yang dulu cukup kuat, kini mulai longgar.
Make Up Bukan Masalah; Kemelekatan yang Dilatih
Bagian ini penting bagi saya untuk ditegaskan.
Make up bukan masalah utama. Banyak orang memakai make up dengan cara yang sehat, ringan, profesional, atau kreatif. Ada yang memakai make up untuk pekerjaan. Ada yang memakai make up karena tuntutan tampil rapi. Ada yang memakainya sebagai seni. Ada yang memakainya karena budaya acara. Ada juga yang memakainya sekadar karena senang.
Setiap orang memiliki kondisi, peran, dan kebutuhan berbeda.
Bagi saya pribadi, yang dilatih bukan make up-nya, tetapi batin yang melekat pada make up.
Batin yang merasa belum cukup tanpa dihias.
Batin yang takut dinilai.
Batin yang ingin terlihat menarik.
Batin yang ingin mempertahankan citra tertentu.
Batin yang mencari rasa aman dari penampilan luar.
Jika seseorang memakai make up dengan batin yang ringan, tidak melekat, dan sesuai kebutuhan, tentu konteksnya berbeda. Namun bagi saya pribadi, dulu make up sudah menjadi tempat batin mencari rasa aman. Maka Aṭṭhasīla membantu saya melihatnya dengan lebih jujur.
Setiap orang memiliki latihan melepas kemelekatan yang berbeda. Bagi saya, salah satunya adalah make up. Bagi orang lain, mungkin bentuk kemelekatannya berbeda: makanan, pujian, kenyamanan, hiburan, pekerjaan, barang, status, atau penilaian orang.
Kajian Abhidhamma (Psikologi Buddhis): Kemelekatan (Lobha) terhadap Jasmani (Rūpa) dan Konsep “Aku”
Dalam kajian Abhidhamma, pengalaman ini dapat dilihat sebagai kemelekatan terhadap rūpa dan konsep diri.
Wajah adalah rūpa. Penampilan adalah rūpa. Warna bibir, bentuk alis, kulit yang tampak lebih cerah, wajah yang terlihat lebih segar—semua itu menjadi objek bagi mata dan pikiran. Ketika batin menyukai objek itu dan ingin mempertahankannya, lobha dapat muncul.
Namun yang lebih halus bukan hanya melekat pada bentuk luar, tetapi pada konsep:
“Aku ingin terlihat menarik.”
“Aku ingin terlihat rapi.”
“Aku ingin diterima.”
“Aku ingin orang melihatku dengan baik.”
“Aku kurang cukup jika tampil polos.”
Di sinilah konsep “aku” mulai bekerja.
Dalam Abhidhamma, citta muncul dan lenyap sangat cepat, disertai cetasika tertentu. Saat melihat wajah di cermin, bisa muncul lobha. Saat merasa kurang cantik, bisa muncul dosa halus berupa ketidakpuasan terhadap diri. Saat lupa melihat ketidakkekalan tubuh, ada moha. Saat ingin dibandingkan lebih baik dari orang lain, bisa muncul delusi (māna).
Namun saat dorongan itu diketahui, perhatian penuh (sati) mulai hadir.
Saat batin memahami bahwa kecantikan luar tidak kekal, paññā mulai bekerja.
Saat batin mulai menerima wajah apa adanya tanpa kebencian, adosa mulai menguat.
Saat batin tidak lagi terlalu menggenggam penampilan, tanpa kemelekatan (alobha) mulai tumbuh.
Maka tidak memakai make up dalam Aṭṭhasīla bukan sekadar “wajah polos”. Ia menjadi latihan melihat proses batin.
Ketidakkekalan (Anicca): Kecantikan Luar Tidak Bisa Dipertahankan
Salah satu perenungan paling kuat dari latihan ini adalah anicca.
Kecantikan luar berubah.
Kulit berubah.
Wajah berubah.
Usia berubah.
Energi tubuh berubah.
Bentuk tubuh berubah.
Pandangan orang lain juga berubah.
Apa yang hari ini terlihat segar, besok bisa tampak lelah. Apa yang hari ini dipuji, suatu saat tidak lagi diperhatikan. Apa yang dulu menjadi sumber percaya diri, suatu saat bisa menjadi sumber kecemasan jika terlalu digenggam.
Aṭṭhasīla membantu saya melihat bahwa bila rasa percaya diri hanya dibangun dari penampilan luar, batin akan mudah goyah.
Karena penampilan luar tidak stabil.
Bukan berarti tubuh tidak dirawat. Tubuh tetap perlu dijaga dengan bersih, sehat, dan rapi. Tetapi batin perlu belajar bahwa nilai diri tidak harus digantungkan pada tampilan wajah.
Kepercayaan diri yang lebih dalam seharusnya tumbuh dari batin yang lebih jujur, sederhana, bertanggung jawab, dan terlatih.
Kajian Psikologi: Penampilan, Kepercayaan Diri, dan Self-Objectification
Dari sisi psikologi, hubungan antara penampilan, make up, dan kepercayaan diri memang kompleks. Make up dapat menjadi sarana ekspresi diri, kerapian, profesionalitas, kreativitas, dan peningkatan percaya diri dalam konteks tertentu.
Karena itu, refleksi ini tidak boleh disederhanakan menjadi “make up itu buruk”.
Motivasi seseorang memakai make up bisa sangat beragam. Ada yang memakai make up untuk tampil profesional. Ada yang karena tuntutan pekerjaan. Ada yang karena budaya acara. Ada yang menjadikannya bentuk seni. Ada yang merasa lebih rapi dan siap ketika memakai make up. Ada juga yang memakainya karena memang menikmati prosesnya.
Namun pada saat yang sama, psikologi juga mengenal konsep self-objectification, yaitu kecenderungan seseorang melihat dirinya terutama dari sudut penilaian tampilan luar. Ketika perhatian pada penampilan menjadi sangat kuat, seseorang bisa lebih mudah merasa cemas, malu, atau tidak cukup ketika tampil tidak sesuai standar tertentu.
Bagi saya pribadi, make up dulu bukan sekadar pilihan ringan. Ia sudah menjadi bagian dari rasa aman. Maka ketika Aṭṭhasīla mengajak saya tidak berhias, saya mulai melihat betapa banyak rasa percaya diri saya yang dulu masih bergantung pada tampilan luar.
Ini bukan untuk menyalahkan make up. Ini untuk melihat hubungan batin saya sendiri dengan make up.
Dalam psikologi, ini dekat dengan proses membangun identitas yang lebih stabil. Bila harga diri terlalu bergantung pada penampilan, batin mudah terganggu oleh perubahan wajah, komentar orang, usia, atau standar kecantikan sosial. Namun bila seseorang mulai mengembangkan penerimaan diri dan nilai diri yang lebih luas, ia tidak terlalu mudah goyah oleh tampilan luar.
Make Up, Waktu, dan Kesederhanaan Hidup
Satu hal sederhana yang juga saya rasakan adalah waktu.
Dulu, bersiap dengan make up bisa menghabiskan cukup banyak waktu. Ada proses memilih, memakai, memperbaiki, mengecek, dan memastikan semua terlihat cukup baik. Kadang sebelum acara dimulai, batin sudah sibuk dengan wajah.
Sekarang, hidup terasa lebih simpel.
Cuci muka.
Berpakaian rapi.
Menjaga kebersihan.
Datang.
Bertemu orang.
Menjalani kegiatan.
Sederhana.
Aṭṭhasīla membantu saya melihat bahwa kesederhanaan bukan berarti mengabaikan diri. Kesederhanaan justru dapat membebaskan batin dari banyak kesibukan kecil yang dulu terasa wajib.
Bagi saya, waktu dan energi yang dulu banyak dipakai untuk make up kini bisa lebih diarahkan untuk hal lain: meditasi, keluarga, pekerjaan, belajar, menulis, mengajar, dan kegiatan yang lebih bermakna.
Percaya Diri yang Lebih Dalam
Dulu, make up membantu saya merasa lebih siap. Namun kini saya mulai belajar bahwa percaya diri yang lebih dalam tidak harus selalu dibangun dari tampilan luar.
Percaya diri bisa tumbuh dari sīla.
Dari kejujuran.
Dari tanggung jawab.
Dari latihan batin.
Dari kemampuan hadir apa adanya.
Dari tidak terlalu bergantung pada penilaian orang.
Dari hidup yang lebih sederhana.
Tentu saya belum sempurna. Saya masih manusia biasa yang bisa terpengaruh penampilan, komentar, dan kebiasaan sosial. Tetapi saya merasa ada ruang yang lebih longgar sekarang.
Saya tidak lagi merasa harus selalu memakai make up untuk bisa keluar rumah.
Saya tidak lagi merasa wajah polos adalah masalah besar.
Saya tidak lagi merasa harus menghabiskan banyak waktu untuk menampilkan versi diri yang “lebih diterima”.
Bagi saya, ini adalah kebebasan kecil.
Namun dalam Dhamma, kebebasan kecil seperti ini tetap berharga, karena ia menunjukkan bahwa satu bentuk lobha mulai melemah.
Aṭṭhasīla sebagai Latihan Kejujuran Batin
Hari ke-70 Aṭṭhasīla mengingatkan saya bahwa latihan tidak selalu tampak besar.
Kadang latihan adalah tidak makan malam.
Kadang latihan adalah menahan ucapan.
Kadang latihan adalah tidak mencari hiburan.
Kadang latihan adalah duduk bersama napas.
Kadang latihan adalah datang ke acara tanpa make up dan melihat batin sendiri.
Aṭṭhasīla membuat saya jujur melihat hal-hal kecil yang dulu tidak saya sadari.
Ternyata saya pernah sangat bergantung pada make up.
Ternyata ada rasa takut dinilai.
Ternyata ada dorongan ingin terlihat menarik.
Ternyata ada rasa tidak cukup jika tampil polos.
Ternyata ada kemelekatan yang tampak halus, tetapi cukup kuat.
Dengan melihat itu, batin mulai punya kesempatan untuk melepas.
Tidak perlu dipaksa dengan keras. Tidak perlu membenci make up. Tidak perlu menilai orang lain. Cukup melihat dengan jujur, lalu tidak selalu memberi makan pada kemelekatan itu.
Setiap Orang Memiliki Latihan Melepas yang Berbeda
Saya ingin menutup refleksi ini dengan hati-hati.
Setiap orang memiliki kondisi hidup yang berbeda. Ada yang memang perlu memakai make up untuk profesi. Ada yang memakai make up untuk tampil rapi dalam acara tertentu. Ada yang menjadikannya seni. Ada yang merasa terbantu untuk menjalankan peran sosial tertentu.
Saya menghormati itu.
Bagi saya pribadi, Aṭṭhasīla menjadi jalan untuk melihat kemelekatan terhadap make up. Bagi orang lain, latihan melepas mungkin muncul dalam bentuk berbeda.
Ada yang belajar melepas kemelekatan pada makanan.
Ada yang belajar melepas kemelekatan pada pujian.
Ada yang belajar melepas kemelekatan pada status.
Ada yang belajar melepas kemelekatan pada kenyamanan.
Ada yang belajar melepas kemelekatan pada kesibukan.
Ada yang belajar melepas kemelekatan pada pandangan “aku benar”.
Maka refleksi ini bukan ajakan untuk menilai pilihan orang lain. Ini hanya catatan perjalanan batin saya sendiri.
Penutup: Kesederhanaan yang Membuat Batin Lebih Ringan
Hari ke-70 Aṭṭhasīla menjadi pengingat bahwa melepas kemelekatan tidak selalu berarti melepas sesuatu yang besar di mata dunia. Kadang yang dilepas adalah kebiasaan kecil yang diam-diam mengikat batin.
Bagi saya, make up dulu menjadi bagian dari rasa percaya diri. Namun melalui Aṭṭhasīla, saya belajar bahwa wajah tanpa make up pun tidak masalah. Saya tetap bisa hadir, bertemu orang, bekerja, menghadiri acara, dan menjalani kehidupan.
Kini hidup terasa lebih simpel.
Bukan karena saya sudah bebas sepenuhnya. Tetapi karena satu kemelekatan mulai longgar.
Saya belajar bahwa tubuh boleh dirawat, wajah boleh dijaga kebersihannya, penampilan boleh rapi. Namun batin tidak perlu terlalu menggantungkan nilai diri pada tampilan luar.
Semoga saya terus belajar hidup lebih sederhana.
Semoga rasa percaya diri semakin tumbuh dari batin yang jujur, lembut, dan terlatih.
Semoga saya tidak merendahkan siapa pun yang memilih memakai make up, karena setiap orang punya kondisi, peran, dan kebutuhan berbeda.
Semoga latihan ini hanya menjadi cermin pribadi: untuk melihat lobha, melepas sedikit demi sedikit, dan menemukan ketenangan dalam kesederhanaan.
Semoga setiap kemelekatan kecil yang mulai longgar menjadi sebab tumbuhnya tanpa kemelekatan (alobha), perhatian penuh (sati), tanpa kebencian (adosa), dan kebijaksanaan (paññā).
Semoga menjadi kondisi pendukung menuju realisasi Nibbāna.
Melepas kemelekatan bukan berarti menolak keindahan.
Melepas berarti belajar tidak menggantungkan nilai diri pada sesuatu yang berubah: wajah, penampilan, pujian, dan penerimaan orang lain.
Simpan bila ini mengingatkan.
Bagikan bila ini bisa menguatkan.
Sādhu..Sādhu..Sādhu..
(Jumat, 29 Mei 2026)
